Mungkinkah Kembali ke Masa Lalu?

Mungkinkah kembali ke masa lalu ketika hidup tanpa HP? Photo by Adrianna Calvo from Pexels

Di malam ini, tiba-tiba pikiran ini memikirkan tentang keinginan untuk kembali ke masa lalu. Tentu bukan dalam artian menginginkan raga dan segala peristiwanya kembali ke masa lalu. Bukan. Melainkan pengalaman di masa lalu yang ingin rasanya saya lakukan kembali di masa ini dan mungkin juga di masa mendatang. Sudah berkali-kali pemikiran semacam ini melintas di pikiran saya. Pengalaman apakah yang saya maksud?

Pengalaman masa lalu yang ingin saya ulangi dan saya ingin merasakannya kembali adalah terbebas dari HP atau ponsel pintar (entah apakah ponsel ini benar-benar pintar dan membuat penggunanya juga pintar). Kenapa?

Dulu saya mengenal HP ketika kelas 4 SD (kalau tidak lupa ingatan). Tapi itu HP milik orang tua saya. Karena milik orang tua ya anggap saja itu juga milik kami berempat, sekeluarga. Ya meskipun kenyataannya saya hanya menggunakan HP itu untuk manian. Sampai SMA pun saya juga tidak punya HP sendiri. Kalau perlu apa-apa, misal mau menghubungi teman, ya lewat SMS dengan menggunakan HP milik orang tua (yang tentunya juga milik kami berempat, sekeluarga). Mungkin terlihat ketinggalan zaman ketika saat itu saya belum punya HP sendiri. Tapi apakah saya merasa gelisah karena takut ketinggalan berita atau informasi penting? Sama sekali tidak. Mungkin karena saat itu penyampaian informasi terkait sekolah lebih sering disampaikan secara langsung. Terkait tugas-tugas sekolah pun juga bisa didiskusikan di ketika di kelas dan kalau mau tanya tugas pun ya pas di sekolah. Beda dengan sekarang, kapan pun bisa tanya tugas. Apakah kami lantas tidak bisa belajar sebaik zaman sekarang? Saya rasa tidak.

Ketika tidak punya HP sendiri dan bahkan sangat jarang sekali menggunakan HP lantas saya merasa kesepian dan tidak bahagia karena tidak ada hiburan? Tentu jawabannya adalah tidak. Saya tidak merasa kesepian dan tetap bahagia dengan segala aktivitas sehari-hari di rumah ataupun di luar rumah (sekolah, main sepak bola sehabis ashar sampai menjelang maghrib, mengaji, nonton TV di rumah tetangga, dll). Apakah lantas ketika tidak punya ponsel pintar saya tidak bisa belajar dengan maksimal dan mengerjakan tugas/PR? Tentu sangat masih bisa karena di sekolah saya masih ada perpustakaan dengan isinya (baca: buku) bisa saya pinjam dan bawa pulang. Saya masih bisa pinjam buku paket milik kakak kelas yang juga merupakan tetangga saya. Saya masih bisa belajar dari buku milik kakak saya yang selisih dua tahun dengan saya. Pun dengan tanpa HP, saya tidak perlu tahu dan memikirkan yang benar-benar saya perlu tahu dan pikirkan.

Saya punya HP pun ketika saya mulai masuk kuliah, HP Evercoss (bukan layar sentuh lho ya, sudah zaman belum sih dulu tahun 2014 HP layar sentuh?). Mulai saat itu dengan terpaksa harus buat akun Facebook karena semua informasi yang berkaitan dengan ospek disampaikan melalui grup Facebook. Hingga seperti saat ini ketika segala informasi tersebar begitu capat. Komunikasi begitu mudah dilakukan tanpa batasan ruang dan waktu. Saya dapat mengakses segala informasi dan hiburan dengan mudah. Saya bisa melihat aktivitas orang lain.

Membawa pengaruh dan dampak positif sendiri tentunya dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperti saat ini. Saya tidak bisa mengelaknya. Apakah saya merasa tidak senang?

Di satu sisi saya senang, namun di satu sisi lainnya saya ingin lagi kembali ke masa lalu ketika saya tidak dipusingkan dengan pengguanaan HP. Dan malam ini, pikiran untuk kembali ke masa lalu itu muncul kembali. Saya lelah dengan pikiran saya yang overthinking yang sering disebabkan oleh ketidakmampuan atau ketidakpandaian saya dalam mengolah pikiran dan informasi yang begitu banyak. Saya merasa tidak setenang zaman dulu. Informasi yang seharusnya tidak perlu saya pikirkan pun kadang (atau mungkin sering) saya pikir berat. Hidup orang lain yang tidak perlu saya urusi pun kadang malah saya pikirkan. Penilaian orang lain pun malah terlalu saya ambil hati. Terlalu kewalahan saya dengan semua itu. Saya tidak terlalu matang (mature) untuk urusan semacam itu.

Lagi, malam ini saya benar-benar ingin kembali ke masa lalu. Tapi, apakah saya bisa melakukannya di tengah keadaan di mana segala informasi disampaikan melalui WhatsApp dan sudah banyak orang yang enggan untuk menelpon atau SMS karana tidak praktis atau karana lebih memilih mengisi paket data internet dari pada mengisi pulsa. Terlebih untuk saat ini sepertinya saya tidak bisa kembali ke masa lalu itu karana saya masih dalam perangkap untuk menggunakan ponsel pintar karana urusan perkuliahan dan urusan lainnya.

Meskipun demikian, saya benar-benar ingin kembali ke masa lalu itu. Semoga setelah kuliah saya selesai dan urusan lainnya (yang saya maksud di paragraf sebelumnya) sudah selesai, saya bisa kembali ke masa lalu itu. Kalaupun menggunakan HP ya cukup mengguankan HP yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telpon. Komunikasi masih bisa lewat surel atau bertemu secara langsung. Toh saya juga bukan orang penting (dan tidak berharap menjadi orang penting).

Sekian.

11 Comments

Leave a Reply to Ibnu Rafi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *