Apa Kunci Sukses Pembelajaran Matematika di Sekolah di Finlandia?

Talking to pupilsPada artikel Apakah Benar di Finlandia Tidak Ada Ujian Nasional? telah dibahas sekilas tentang sistem pendidikan di Finlandia dan hal-hal yang menjadi faktor penyebab pendidikan di Finlandia dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pada artikel ini, bagaimanapun juga, akan lebih difokuskan pada aspek pembelajaran matematika sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa capaian matematika Finlandia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2003 sampai dengan PISA 2018 selalu di atas rata-rata OECD [1]. Begitu juga pada Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2011 dan 2015 di mana capaian matematika Finlandia juga di atas TIMSS scale centerpoint, yaitu di atas skor 500 [2,3]. Hasil ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia sukses dalam memfasilitasi siswanya dalam belajar matematika. Terlepas dari adanya pro dan kontra terkait dengan apakah hasil PISA dapat mencerminkan kualitas pendidikan atau pembelajaran di suatu negara atau tidak [lihat 4,5], tentu tidak ada salahnya kita belajar dari pembelajaran matematika di negara lain. Siapa tahu kita bisa menemukan hal baik untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika di Indonesia, bukan?

Nah, berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan oleh Center for Learning Analytics, University of Turku, Finlandia, dapat diidentifikasi rahasia atau kunci sukses dari pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia yang kemudian dikenal dengan istilah Finland Math [6]. Apa sajakah kunci sukses pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia?

Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Nampaknya sudah menjadi hal umum bahwa salah satu kunci utama agar suatu pembelajaran matematika sukses dalam memfasilitasi siswa belajar matematika secara bermakna adalah melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Pembelajaran berpusat pada siswa mengandung konsekuensi bahwa siswa memiliki tanggung jawab lebih dalam memecahkan masalah atau melakukan penyelidikan terhadap masalah, aktivitas, atau konteks matematika yang difasilitasi oleh guru [7]. Jadi, jelas bahwa dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa sendirilah yang aktif dalam membangun pengetahuan, keterampilan, atau sikap matematikanya; sedangkan guru hanyalah sebagai pembimbing dan fasilitator dalam menyediakan aktivitas matematika yang bermakna. Untuk menciptakan pembelajaran yang demikian tentu tidak dapat terlepas dari keterlibatan aktif siswa itu sendiri selama proses pembelajaran.

Bagaimana cara agar siswa mau terlibat aktif dalam pembelajaran matematika? Memberikan otonomi kepada siswa dalam belajar matematika dan memberikan umpan balik (feedback) yang bersifat membangun merupakan dua dari berbagai cara yang bisa dilakukan. Umpan balik di sini tentu tidak terbatas hanya pada umpan balik yang diberikan oleh guru, namun dapat pula berupa umpan balik yang diberikan oleh teman sekelas atau bahkan orang tua siswa itu sendiri. Dengan bantuan teknologi yang berkembang begitu pesat, pemberian umpan balik semacam ini sangat berpotensi untuk dapat dilakukan.

Pembelajaran yang Bebas dari Tekanan

Pembelajaran matematika yang bebas dari tekanan ini di mulai dari adanya fakta bahwa jam belajar dan mengajar di sekolah di Finlandia, khususnya pada jenjang basic education (kelas 1-9), merupakan salah satu yang paling sedikit di dunia [8]. Selain itu, sedikitnya ujian atau asesmen dan pekerjaan rumah (PR) juga menjadikan siswa di Finlandia mengalami sedikit (atau bahkan tidak ada) tekanan dalam belajar. Tetap ada ujian atau asesmen lho meskipun tidak banyak, apakah siswa tidak merasa tertekan ketika akan dan sedang menghadapi ujian tersebut? Mungkin tidak terlalu atau bahkan tidak merasa tertekan karena menariknya, di Finlandia, asesmen yang dilakukan lebih difokuskan assessment for learning, dibanding assessment of learning. Asesmen tersebut dilakukan untuk menilai belajar siswa dan juga untuk memahami bagaimana cara yang lebih baik untuk mendukung siswa dalam belajar [6].

Pembelajaran yang bebas dari tekanan juga didukung dengan adanya atmosfer lingkungan pembelajaran matematika yang diciptakan oleh guru. Guru menciptakan lingkungan pembelajaran matematika yang di dalamnya tercipta suasana saling menghargai dan bersahabat, baik antarsiswa maupun antara guru dan siswa. Guru juga menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa siswa dapat belajar dari kesalahannya dan dengan membuat kesalahan di situlah siswa sesungguhnya dapat belajar banyak hal. Dengan demikian, melalui hal semacam ini diharapkan akan tertanam pada diri siswa bahwa melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar selama proses belajar. Bahkan melalui hal ini pula, secara tidak langsung guru juga memfasilitasi siswa dalam mengembangkan resiliensi diri dan keinginan yang kuat dalam menghadapi kesulitan. Selain itu, guru juga selalu memberikan dorongan, semangat, dan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan oleh siswa, meskipun hasil yang dicapai oleh siswa tersebut tidak ideal [6].

Pembelajaran Berbasis Personalisasi (Personalized Learning)

Pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika, di Finlandia dilaksanakan dengan menyadari bahwa setiap siswa itu unik. Unik di sini dapat berupa unik dalam hal gaya belajar, metode belajar, kelemahan dalam belajar, atau kekuatan dalam belajar. Oleh karena itu, guru di Finlandia menyadari juga bahwa tidak ada pendekatan yang bersifat ‘one size fits all’. Dengan demikian, guru menghargai bahwa setiap siswa itu berbeda dan tentu tujuan dan kebutuhan belajar mereka juga mungkin berbeda satu sama lain.

Dengan adanya keunikan dari diri tiap siswa, semua siswa tidak perlu mengerjakan tugas atau soal matematika yang sama, melainkan tugas atau soal yang mereka kerjakan disesuaikan dengan kemampuan mereka. Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia, guru sangat mempertimbangkan Zone of Proximal Development (ZPD) [6]. Dengan mempertimbangkan ZPD, guru akan lebih memahami bahwa menyajikan soal yang terlalu mudah akan dapat membuat siswa merasa bosan dan mungkin dapat menurunkan motivasinya. Sama halnya ketika menyajikan soal yang terlalu sulit bagi siswa juga akan dapat membuat siswa merasa frustrasi dan tidak termotivasi. Oleh karena itu, guru perlu mengidentifikasi dan merancang soal atau aktivitas yang tidak terlalu sulit atau tidak terlalu mudah, serta apa yang dapat diselesaikan sendiri oleh siswa dan apa yang bisa diselesaikan apabila dikerjakan dengan adanya bantuan orang lain atau secara kolaboratif.

Pemahaman Mendalam dan Creative Problem Solving

Satu hal yang juga perlu diketahui dari pendidikan di Finlandia adalah tujuan dari pendidikan adalah bukan menjadikan siswa menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan ujian dengan cara menghafal materi yang ada dan melupakan semua hal ketikan mereka selesai ujian. Tujuan pendidikan di Finlandia yang salah satunya melalui pembelajaran matematika, di lain sisi, adalah untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan pemahaman yang mendalam. Pemahaman yang mendalam ini mendukung siswa untuk menjadi pemecah masalah yang kreatif (see taksonomi Bloom yang direvisi). Dengan menjadi pemecah masalah yang kreatif, siswa akan menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan yang tidak terduga atau menghadapi ketidakpastian (uncertainty).

Guru Memiliki Waktu Lebih dan Lebih Fokus dalam Mendukung Belajar Siswa

Telah disebutkan sebelumnya bahwa hal penting untuk mendukung siswa agar berpartisipasi aktif dalam pembelajaran matematika adalah pemberian umpan balik. Terlebih kita ketahui bahwa untuk belajar matematika secara maksimal tidak cukup hanya dengan memahami konsep, namun juga perlu latihan-latihan sebagaimana ungkapan practice makes perfect. Namun sekali lagi, memfasilitasi siswa untuk berlatih dalam memecahkan masalah matematika saja tidak cukup untuk menciptakan pembelajaran matematika yang bermakna bagi siswa. Lagi, di sinilah umpan balik dibutuhkan oleh siswa untuk mengetahui perkembangan belajarnya dan juga mengetahui apakah yang mereka kerjakan sudah benar atau belum.

Urgensi pemberian umpan balik ini tentu menjadi tantangan bagi guru, terutama jika jumlah siswa yang difasilitasinya untuk belajar matematika itu. Lalu bagaimana solusinya agar tetap bisa memberi umpan balik tanpa merasa kewalahan dan tetap memiliki waktu lebih? Solusinya adalah dengan memanfaatkan teknologi digital pembelajaran. Ya, guru matematika di Finlandia memanfaatkan teknologi tersebut untuk memberikan umpan balik secara otomatis sebagai usaha untuk tetap memfasilitasi terciptanya pembelajaran matematika yang bermakna bagi siswa, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah. Dengan memanfaatkan teknologi digital tersebut; ketika siswa dapat belajar secara independen, maka guru dapat mengalokasikan waktunya untuk memberikan dukungan atau bantuan kepada siswa yang lebih membutuhkan bantuan dalam belajar.

Fokus pada Pengembangan Growth Mindset Siswa

Inilah salah satu hal yang menarik dari pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia, yaitu adanya perhatian lebih pada pengembangan growth mindset dibandingkan fixed mindset. Istilah growth mindset dan fixed mindset ini dicetuskan pertama kali oleh Profesor Carol Dweck di mana orang yang memiliki pola pikir berupa growth mindset akan menganggap bahwa kemampuan dan kecerdasan yang dimilikinya merupakan hal yang bisa dikembangkan melalui usaha yang sungguh-sungguh, latihan yang sistematis dan disertai pemberian umpan balik (deliberate practice), dan kegigihan. Adapun sebaliknya, orang yang memiliki pola pikir berupa fixed mindset akan cenderung memandang bahwa kemampuan dan kecerdasan yang dimilikinya itu bersifat tetap atau tidak dapat dikembangkan karena menganggapnya sebagai bawaan lahir. Orang dengan pola pikir growth mindset akan memandang kegagalan dan tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Untuk lebih memahami kedua jenis pola pikir tersebut, silakan cermati video yang berjudul ‘The Power of belief – mindset and success’ berikut.

Pola pikir berupa growth mindset ini tentu perlu untuk ditanamkan pada diri siswa mengingat salah satu kemampuan yang penting untuk dikuasai di abad ke-21 ini adalah kemampuan metakognisi, yaitu kemampuan untuk memahami dan mengevaluasi proses belajar atau apa yang ada di pikiran. Melalui kemampuan ini, seseorang dapat berpikir lebih kreatif dan juga inovatif. Sehubungan dengan hal ini, pendidikan di Finlandia, melalui pembelajaran matematika, berusaha untuk menanamkan pola pikir berupa growth mindset agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan di masa depan dan juga menganggap kesalahan dalam proses belajar merupakan suatu hal yang wajar sekaligus sebagai peluang untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasannya.

Itulah beberapa kunci sukses dari pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia. Nah, dari beberapa kunci sukses yang telah dipaparkan tersebut, mana yang menurut teman-teman sudah diterapkan di pembelajaran matematika di Indonesia dan mana yang paling berpotensi untuk diterapkan di Indonesia?

Credit for the picture: di sini

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *