Hakikat Kebahagiaan Ala Novel Ayahku [Bukan] Pembohong

Berbicara mengenai hakikat kebahagiaan tentunya antara satu orang dengan orang lainnya bisa jadi akan memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang mengartikan kebahagiaan itu sebagai perasaan senang karena memperoleh penghargaan atau hadiah, terbebas dari perasaan sedih atau kehilangan. Sebagian lainnya mungkin akan menganggap kebahagiaan itu pada dasarnya merupakan suatu perasaan yang muncul setelah melakukan pengorbanan yang besar.

man-young-happy-smiling-91227.jpg
Photo by Stefan Stefancik from Pexels

Lalu, apa sebenarnya hakikat dari kebahagiaan? Dalam novel yang berjudul Ayahku [Bukan] Pembohong, pada Bab 30 tentang Danau Para Sufi, Tere Liye sebagai penulis novel tersebut menceritakan tentang hakikat sejati kebahagiaan hidup. Menurutnya, dengan memahami hakikat sejati hidup, “seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari” dan dengan memilikinya akan menjadikan kita bisa menghela napas bahagia setiap hari. Berikut adalah hakikat kebahagiaan hidup yang sejati ala novel Ayahku [Bukan] Pembohong. 

Kebahagiaan hidup itu sejatinya diperoleh dengan usaha

Untuk mencapai yang namanya kebahagiaan hidup itu tentunya memerlukan waktu dan proses yang lama. Mengapa bisa demikian? Karena kebahagiaan itu diperoleh dengan usaha. Yang dimaksud dengan usaha di sini adalah usaha untuk membersihkan hati dari segala kegelisahan dan iri hati serta melapangkan hati. Melapangkan hati untuk ikut merasa senang dan ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan nasib baik. 

Sumber kebahagiaan itu sejatinya adalah dari dalam (hati) diri kita sendiri

Sesungguhnya, kebahagiaan yang sejati itu tidaklah diperoleh dari luar (hati) diri kita sendiri. Kebahagiaan yang datang dari luar (hati) diri kita sendiri seperti keberuntungan, hadiah, jabatan, atau penghargaan bukanlah merupakan kebahagiaan yang hakiki. Mengapa kebahagiaan yang semacam ini tidak disebut sebagai kebahagiaan yang hakiki? Jawabannya tidak lain adalah karena kebahagiaan tersebut bisa jadi akan hilang begitu saja ketika hal tersebut menghilang dari diri kita dan pada akhirnya digantikan dengan kesedihan. Terlebih apabila kita tidak  melapangkan hati kita untuk menerima yang namanya kehilangan, maka kita akan merasakan kesedihan berkepanjangan.

Kebahagiaan yang sejati diperoleh dengan cara membiasakan diri untuk hidup bersahaja, sederhana, dan apa adanya 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati itu tidaklah mudah. Kita harus bekerja keras dan membiasakan diri untuk hidup bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Hidup yang demikian mengandung konsekuensi bahwa kita seharusnya mensyukuri apa yang telah kita miliki dalam hidup ini, berprasangka dan berbuat baik ke orang lain, menghargai orang lain dan juga menghargai alam sekitar. 

Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya (kebahagiaan yang sejati), termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki (hlm. 294).

Sekian.

19 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *