Tentang Ukuran Kesuksesan

Measuring-Success-EDT-MED-800px-768x313.jpg
Ukuran Kesuksesan via https://www.customersuccessassociation.com/library/the-definition-of-customer-success/

Setiap dari kita tentu memiliki ukuran kesuksesannya masing-masing. Ada yang mengukur kesuksesannya dari penghasilan/kekayaan yang diperolehnya, ada yang mengukurnya dari popularitasnya di kehidupan nyata atau maya, ada yang mengukurnya dari jabatan yang dimilikinya, dan ada juga yang menetapkan tingkat pendidikan sebagai ukuran kesuksesannya. Apapun ukuran kesuksesan yang dipilih oleh setiap orang, tentu yang diharapkan adalah ukuran tersebut mampu membuatnya bahagia.

Lalu bagaimana pandangan Mark Manson mengenai ukuran kesuksesan sebagaimana termuat dalam bukunya yang berjudul The Subtle Art of Not Giving A F*ck (Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat)?

Dalam menjelaskan ukuran kesuksesan, Mark Manson menggunakan konsep bahwa kegagalan dan kesuksesan merupakan dua hal yang berkaitan. Maksudnya? Ya, maksudnya adalah bahwa besarnya kesuksesan seseorang itu berdasarkan banyaknya kegagalan yang dialami oleh orang tersebut dalam melakukan atau mencapai sesuatu. Berdasarkan konsep ini, dapat dikatakan bahwa jika seseorang lebih baik dari kita, bisa jadi karena orang tersebut lebih banyak mengalami kegagalan daripada kita. Lebih lanjut, berdasarkan konsep ini juga jika kita bersedia untuk sukses, maka ini artinya kita juga harus bersedia untuk mengalami yang namanya kegagalan.

Kita terkadang takut untuk gagal – sama artinya takut untuk sukses – dikarenakan tidak tepat dalam menetapkan ukuran kesuksesan kita. Sebagai contoh, jika kita mengukur kesuksesan dengan standar “penonton video baru yang saya upload di kanal YouTube saya minimal 2000 dengan 500 like dan 5 dislike dalam waktu satu minggu,” kita akan merasa tidak tenang, karena yang sepenuhnya menentukan kesuksesan dan penghargaan diri kita adalah orang lain, bukan diri kita sendiri. Kita sendiri tidak punya kuasa untuk itu.

Tentu akan berbeda kasusnya jika standar yang kita gunakan untuk mengukur kesuksesan kita adalah “produktif dalam menghasilkan video dan mengembangkan kemampuan kita dalam mengedit video.” Dengan standar semacam ini, jelas yang menjadi ukuran kesuksesan dan penilian diri kita sendiri itu ya perilaku, kemampuan, dan kebahagiaan kita sendiri, bukan tanggapan atau penilaian orang lain terhadap kita.

Dari dua contoh ukuran kesuksesan di atas, jelas yang mengarah ke nilai yang lebih baik adalah ukuran kesuksesan yang menitikberatkan pada proses yang terus berlangsung, bukan ukuran kesuksesan yang menitikberatkan pada standar duniawi. Mengapa bisa demikian?

Ukuran kesuksesan yang menekankan pada standar duniawi – membeli rumah, motor, mobil – adalah ukuran yang membatasi diri kita untuk menciptakan kebahagiaan dalam hidup kita. Ukuran tersebut merupakan ukuran jangka pendek dari keseluruhan hidup kita. Adapun ukuran kesuksesan yang menekankan pada proses memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap tumbuh dan memperbaiki diri. Mark Manson pun menyebutkan bahwa “…pertumbuhanlah yang menghasilkan kegembiraan, bukan daftar panjang pencapaian egois Anda.”

Sekian

Referensi
Manson, M. (2018). Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Diterjemahkan oleh: F. Wicaksono. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

4 Comments

Leave a Reply to Luna Pratiwi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *