Less Is More: When You Need to Know What You Really Need

Less Is More via https://www.etsy.com/listing/614153020/less-is-more-unless-its-coffee-prints

Sudah berapa banyak barang yang kamu beli dari awal bulan Januari 2019 sampai dengan saat ini? Apakah kamu membelinya atas dasar kebutuhan, hanya keinginan, ataukah atas dasar adanya diskon besar-besaran? Apapun dasarnya, itu hak kamu kok membeli barang-barang yang memang kamu mau, tidak ada salahnya.

Baiklah, sekarang dengan membeli barang-barang tersebut apakah kamu merasa senang dan barang-barang tersebut masih berfungsi dan masih sering kamu gunakan sampai sekarang? Jika ya, maka saya ucapkan selamat—kamu telah memberi barang yang tepat. Namun jika kehadiran barang tersebut kini membuat kamu merasa sesak, maka bisa jadi sekarang saatnya kamu mempertimbangkan untuk menyingkirkan barang tersebut.Pada postingan yang berjudul More Is Less? yang termuat dalam website the Minimalist disebutkan bahwa “Owning less stuff, focusing on fewer tasks, and having less in the way has given us more time, more freedom, and more meaning in our lives.” Ini berarti bahwa dengan memiliki barang yang lebih sedikit (esensial) dan fokus pada tugas yang lebih sedikit saja dapat memberikan kesempatan kepada kita untuk memperoleh waktu dan kebebasan yang lebih banyak serta memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat lebih memaknai hidup kita.

Sekarang, lihatlah kondisi dan suasana di kontrakan, kos, apartemen, atau rumahmu. Apakah terkesan sumpek dan sering kali kamu memerlukan waktu yang lama untuk membereskan atau membersihkannya? Jika ya, bisa jadi itu semua karena tempat tinggalmu dipenuhi oleh barang-barang yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Lagi-lagi, jika kamu sudah jengkel dengan suasana yang sumpek dan merasa waktumu terbuang banyak hanya untuk sekadar membersihkan tempat tinggalmu, maka sudah saatnya kamu menyortir barang-barang di tempat tinggalmu. Pilah mana barang-barang yang memang kamu butuhkan dan mana barang-barang yang sudah tidak kamu butuhkan atau yang sudah tidak berfungsi lagi. Singkirkan barang jenis kedua tersebut dari rumahmu–bisa kamu donasikan, jual, atau buang.

Memang bukanlah hal yang gampang untuk menyingkirkan barang-barang dari tempat tinggalmu. Namun, bukan berarti itu tidak bisa dilakukan. Mulailah dari menyingkirkan satu barang saja dulu. Kemudian renungkan lagi, mana barang-barang yang memang benar-benar tidak kamu butuhkan dan layak untuk kamu singkirkan jauh-jauh dari tempat tinggalmu.

Kalau kamu sudah berhasil menyingkirkan satu barang–yang tidak kamu butuhkan–dari tempat tinggalmu, maka saya ucapkan selamat dan terima kasih. Setelah itu, penting untuk diingat bahwa kedepannya kamu harus mencoba untuk benar-benar memahami mana yang menjadi kebutuhanmu dan mana yang bukan menjadi kebutuhanmu. Mengapa hal ini penting? Tidak lain adalah karena dengan kamu tahu barang-barang apa saja yang kamu butuhkan, kamu tentu tidak akan memenuhi tempat tinggalmu lagi dengan barang-barang yang tidak kamu butuhkan. Dengan kata lain, supaya tidak terjadi kejadian “keluar satu barang, masuk sepuluh barang”:)

Semoga berhasil.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *